10 Days in Seoul-1: Welcome to Seoul

Sumber
Halo-halo, setelah posting preface tentang sedikit keriweuhan terkait persiapan K2H 2014 seminggu lalu, inilah saatnya aku menulis tentang pengalaman pertamaku menjelajahi ibukota Negeri Ginseng sebagai bagian dari pre-program K2H 2014.
Selasa, 15 April 2014
Koper, ransel, dan tas tenteng siap!
Dok: Danee, 2014
Seperti biasa, drama last minutes packing selalu kulakukan setiap hendak berangkat ke luar kota. Kali ini tambah deg-deg-an karena ini perjalanan pertamaku ke luar negeri, yang membuat semakin stress adalah beban maksimal 30 kg yang boleh dibawa di bagasi pesawat. Memang terkesan banyak barang yang bisa dibawa dengan beban maksimal tersebut untuk koper berukuran segede gabanku, namun tetap saja rasanya masih kurang. Selain baju dan beberapa keperluan untuk tinggal di Korea selama 6 bulan, aku harus membawa suvenir resmi Kota Solo sebanyak 2 paket yang lumayan berat. Setelah beberapa kali dibongkar karena takut kena charge tambahan karena kelebihan beban, akhirnya menjelang keberangkatanku, koper super besar dikunci, ransel untuk dibawa ke kabin dipadatkan, plus sebuah tas batik untuk ditenteng berhasil disiapkan.

Satu jam sebelum boarding aku dan keluarga sudah meluncur ke bandara. Saat itu pula Astri Kusuma mengabariku bahwa dia sudah sampai di Bandara Soetta. Wah, cepet banget? Memang rencananya kami akan menyempatkan diri untuk bertemu sejenak di Jakarta saat aku transit di sana sebelum akhirnya meluncur ke Incheon. Di bandara aku sempat bertemu dengan Itha yang walaupun sedang hamil besar masih menyempatkan mampir karena memang kebetulan rumahnya dekat dengan bandara. Usai sholat magrib dan menyelesaikan segala urusan keberangkatan, aku mengangkasa dengan tenang, meninggalkan keluarga dan teman-teman di Solo dan tak sabar untuk bertemu dengan Astri sebelum benar-benar meninggalkan Indonesia di Soetta.


Nyakrus after some drama in Soetta :(
Dok: Danee, 2014
Ketika sampai di Soetta dan mengurus proses transit, tidak kusangkat terjadilah drama yang akhirnya berhasil meruntuhkan pertahanan emosiku menjelang berangkat. Karena ketidaktahuanku dengan kondisi di Bandara Soetta, aku gagal bertemu Astri! Aku terlanjur melewati pos imigrasi di bandara sebelum menyadari bahwa setelahnya aku tidak bisa kembali masuk ke area Indonesia! OMFG!!! Akhirnya dengan sangat menyesal aku menelepon sahabatku tersebut sambil sesenggukan *uhuk, yap benar sesenggukan* di Musholla.

Sebel, kesel, merasa bodoh karena melewatkan kesempatan bertemu sesaat sebelum berangkat hanya karena ketidaktahuanku tadi. Astri menguatkanku dan berkata tidak apa-apa, setidaknya dia menghabiskan waktu di bandara menungguku sambil membaca disposisi pekerjaan. Aku pun menyampaikan salam minta maaf kepada Mas Johan, suami Astri karena telah membuat istrinya menungguku berjam-jam dan akhirnya tidak bisa bertemu samasekali. Kami pun terpaksa menunda pertemuan hingga 6 bulan ke depan, hu hu hu hu.

What a beautfiul sight from the window
Dok: Danee, 2014
Dengan perasaan remuk redam, akhirnya aku naik ke pesawat penerbangan internasional pertamaku. Wuih, pesawatnya gede bener yak? Pantes saja beban maksimal yang boleh dibawa juga sampai 30 kg, he he. Aku duduk di sebelah seorang wanita Korea yang sepertinya mau mudik. Dia sempat membantuku meletakkan tas ranselku yang beraaat itu di kabin sebelum akhirnya kami saling berdiam diri tanpa komunikasi karena larut dengan pikiran masing-masing sepanjang perjalanan ke Incheon.

Perjalanan melintasi samudra kulalui dengan tenang. Sepanjang perjalanan aku sukses tidur dan walalupun beberapa kali terbangun, namun so far tidak ada kendala sepanjang perjalanan tersebut. Pelayanan maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga memuaskan. Snack malam dan sarapan yang disediakan lumayan enak dan membuat kenyang :) Oh ya, ketika fajar merekah, aku menyempatkan diri untuk memotret dari jendela di sampingku. 

Pemandangan dari jendela pesawat tentu saja penuh awan di bawah sana, namun tetap saja cukup menarik untuk diabadikan, termasuk sebuah gugusan pulau yang aku kurang tahu ini pulau apa, tapi kesannya misterius dan jepretable #halah
Mysterious Island?
Dok: Danee, 2014
Rabu 16 April 2014
Begitu mendarat di Incheon aku bengong. Mau motret-motret sedang tidak mood. Akhirnya setelah mengikuti serombongan orang yang turun dari pesawat Garuda yang sama-sama kutumpangi, aku mampir sebentar ke toilet yang super canggih dan bersih! Weks, toilet di Indonesia kalah jauh deh *tutupmuka* Keluar dari toilet, ternyata lorong kedatangan sudah sepi dan aku membuntuti serombongan orang Asia-mungkin Filipina, aku tidak yakin-sebelum akhirnya naik turun eskalator dan naik ke kereta yang mengantar sampai ke area imigrasi. Di sini antrean sudah cukup mengular namun tertib. Begitu tiba giliranku, aku harus menempelkan kedua jempol ke sebuah alat dan dipotret dadakan di tempat tersebut. Dijamin fotonya jelek banget, mata sayu kecapekan, dan blank saja gitu *tutupmuka*
 
Oh ya, walaupun tidak terlalu mood memotret dengan digicam, namun ada beberapa jepretanku dengan kamera hape... 


Beberapa sudut Bandara Incheon
Dok: Danee, 2014
Keluar dari area imigrasi, aku mengambil koper super besarku dengan susah payah. Jangan harap ada jasa troli pengantar macam di Indonesia ya, di sini semuanya dilakukan sendiri, he he. Aku sempat kebingungan harus menuju ke arah mana dan sempat terjebak di rombongan mahasiswa teknik Indonesia-aku lupa dari kota mana-yang sedang study tour, sebelum akhirnya keluar menuju ke gerbang kedatangan bandara.

Di gerbang kedatangan, aku celingukan mencari orang yang membawa tulisan K2H 2014 seperti yang dijelaskan oleh pihak GAOK. Ternyata tidak ada yang membawa tulisan tersebut, namun ada seorang wanita menghampiriku dan menanyaiku apakah aku peserta program tersebut, kujawab ya, dan wanita tersebut langsung tersenyum lega dan mengatakan bahwa dia Kim Jin Ah, yang bertugas menjemputku. Ternyata dia juga sudah menunggu sekitar satu jam bersama seorang peserta K2H lainnya yang berasal dari Myanmar yang memang kebetulan datang lebih dulu dariku. Wah, aku cukup kaget karena ternyata aku sudah berada di dalam bandara selama itu? Aku pun minta maaf dan kami bertiga langsung membawa koper dan segala perlengkapan kami ke taksi yang ada di barisan paling ujung antrean di depan bandara yang jaraknya cukup jauh untuk ditempuh dengan semua barang bawaan kami.

Perjalanan dari bandara Incheon menuju Stanford Hotel di seoul memakan waktu sekitar 45 menit dan cuaca di luar sangat tidak bersahabat! Berkabut dan dinginnya minta ampun *merapatkanjaket* Turun dari taksi, ternyata kami berada di tempat yang salah sehingga harus menyeberang jalan sejenak sebelum akhirnya benar-benar sampai di hotel yang akan kami tinggali 10 hari ke depan.
View from my room
(Dok: Danee, 2014)


Lega juga akhirnya sudah sampai di Seoul. Aku dan rekan dari Myanmar-namanya Chaw-menempati kamar yang bersebelahan, namun kami penasaran dengan siapakah kami akan sekamar untuk 10 hari ke depannya.

Karena acara belum resmi dibuka dan peserta lain belum berdatangan akhirnya kami diminta beristirahat di kamar. Saat itulah aku baru tahu ada tragedi kapal ferry Sewol yang tenggelam saat hendak ke Pulau Jeju dari televisi yang sengaja kubiarkan menyala untuk mengisi kesunyian di kamar. Tragedi yang akhirnya membuat seluruh masyarakat Korea Selatan berduka dengan banyaknya korban meninggal dan hilang yang kebanyakan siswa sekolah tersebut.

Teman sekamarku datang sore hari dan ternyata dia berasal dari Cina, namanya Li Ya Li. Rombongan peserta dari Cina datang bersamaan sekitar 40-an orang. Wah, menyenangkan sekali ada banyak teman dari satu negara ya, terasa seperti pindah negara saja, he he. Dan ini terlihat dari betapa mendominasinya para peserta dari Cina tersebut pada saat makan malam, hanya ada sebagian kecil peserta yang tidak berbahasa Cina alias mengandalkan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Para peserta dari negara selain Cina dan Jepang masih banyak yang belum datang sehingga kami yang menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi berasa seperti minoritas saja saat itu, ha ha ha.

Usai makan malam sebenarnya Ya Li dan Rachel Mao, peserta dari Cina yang nantinya akan menjadi temanku di Daegu mengajak aku dan Chaw untuk jalan-jalan bersama rombongan mereka, namun kami berdua menolak karena sudah cukup malam dan kami memilih untuk beristirahat kembali saja di kamar.

Bagaimana dengan hari keduaku di Seoul? Nantikan postingan selanjutnya ya :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic of Ordinary Days (2005)